Sejarah Desa Bajang



         Asal – usul Desa Bajang dalam Sejarahnya berasal dari Kata BA dan JANG yang di rangkai menjadi Bajang, artinya tidak terlalu Besar dan tidak terlalu Kecil. Sehingga asal muasal menjadi suatu Desa yang dinamakan Desa Bajang , adalah Desa yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga menurut mitos yang ada di Desa Bajang segala sesuatu kehidupan masyarakatnya sedang – sedang saja, tidak terlalu kaya dan tidak terlalu miskin.

Dalam riwayatnya pada jaman kerajaan Mataram mulai jatuh salah satu Prajurit

 ( Punggawa mataram ) melarikan diri kearah utara dengan naik sebuah perahu bernama Dampo Awang (nama perahu) bersama saudagar Cina yang bernama Sampo kong. Sesampainya diwilayah  tanah perdikan Anjuk Ladang sebelah utara yang semula laut dapat dilalui perahu, karena perubahan siklus laut berubah menjadi daratan sehingga Dampo Awang ( nama perahu ) yang ditumpangi bersama Ponggawa Kerajaan Mataram terdampar, karena laut tempat terdamparnya para ponggawa mataram dan saudagar cina  tersebut menjadi gunung dan dinamakan Gunung Perahu sampai sekarang, dan di gunung tersebut ada situs (makam) yang di keramatkan oleh masyarakat hingga saat ini makam tersebut sebutan Eyang Dampo Awang, dan sampai sekarang setiap tahun sekali masyarakat Desa Bajang khususnya dan daerah lain umumnya melakukan Sedekah bumi / ritual adat dimakam Eyang Dampo Awang di Gunung Perahu dengan hari pasaran yang telah ditentukan sejak dahulu yaitu hari jum’at Pahing. Dengan Eyang Dampo Awang menunggui perahunya sehingga ponggawa Mataram mengembara ke arah barat dari Gunung perahu,dalam sejarah Poggawa tersebut bernama Pengulo Winoto yang oleh Masyarakat disebut Eyang Moyi tersebut beristrahat dibawah pohon yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil yang umurnya sudah  ratusan  tahun tetapi daunya sangat rindang namanya Pohon Gayam yang terdapat sumber air dibawahnya , beliau bersabda  kalau ada ramainya jaman Desa ini saya namakan Desa Bajang sebagai Dusun Awal dan akhirya membuka lagi lahan diwilayah barat Desa Bajang yang dinamakan Dusun Dance dan Arah Tenggara dinamakan Dusun Krondong dan sampai akhir hayatnya Pengulo Winoto menetap di Dusun Bajang dan dimakamkan di tengah – tengah Dusun Bajang yang makamnya oleh  masyarakat setempat dinamakan makam Eyang Moyi adapun disebelah barat desa Bajang juga ada situs (makam) pungawa yang lain bernama Eyang Suro Sentanu.

Dalam perkembangannya terjadi penggabungan dua Dusun menjadi satu dengan dusun Bajang  menjadi Desa Bajang walau jarak antara dusun tersebut saling berjauhan yang dipisahkan oleh hutan belantara. Walau  letaknya saling berjauhan tapi semangat kekeluargaanya sangat baik antar masyarakat desa tersebut karena adanya kesamaan kultu budaya yang sangat fundamental dan kesamaan Visi dan Misi untuk menggapai Kesejahteraan bersama dan demi kemajuan desa.

pistol4d

pistol4d